Sebelum saya menceritakan yang ena-ena. Marilah kita
nikmati pahitnya
KKN Mandiri sangat lekat dengan usaha mandiri mencari dana.
Entah itu dana usaha, sponsor, atau donatur. Tim KKN saya pun juga melakukan
hal yang sama.Untuk menjalankan program KKN yang lancar dan nyaman. Mengingat
bahwa pengeluaran program kami membengkak, maka kami mengumpulkan tenaga untuk
menggalang dana usaha dan mencari sponsor. Untuk program KKN di bulan Januari-Februari,
mungkin kami telat mengadakan dana usaha pada bulan Oktober.
Awalnya kami hanya menjual kembali risol coklat yang diambil
dari pengkulak. Hanya sebatas berjualan antar teman di fakultas masing-masing.
Yang berujung dengan donasi alias membeli sendiri dagangan sendiri. Untungnya
tidak seberapa, malah kantong semakin menipis karena tak kuat melihat godaan
dagangan sendiri. Hmm kali ini rumput rumah sendiri lebih hijau men!
Penjualan risol coklat di beberapa fakultas di kampus pun masuk
dalam masa “gak ada yang mau order lagi”. Menyamakan dengan teman KKN lainnya,
kami ikutan jualan di Car Free Day Surakarta.
Suatu pagi, tim kami yang harusnya 24 orang lengkap, hanya
berapa persen saja yang nongol. Jika tim KKN mu seperti ini? tenang itu hal
yang lumrah, sudah jangan terlalu difikir nanti bikin dongkol hahaha.
Sebelumnya, kami telah ditugaskan untuk membawa beberapa macam makanan dan
minuman. Menu utama tetap! Risol Coklat!
Saya dan teman kkn saya, Anisa Jodia berencana membuat spageti. Sudah
membawa peralatan memasak, eh kompor gas yang dibawa ternyata gak bisa dipake.
Bahkan sempat direparasi di tempat tetapi tidak bisa malah membuat bau gas.
Alhasil, demi keselamatan kami menumpang memasak di tim KKN tetangga yaitu KKN
Belitong. Nah, interaksi dan kerjasama antar tim KKN Mandiri sangat diperlukan
dikala danusan gini, guys.
Setelah makanan siap, saya dan tim marketing ala ala (Gilang
dan Ridho) menjajakan risol coklat dan spageti di sepanjang jalan slamet
riyadi. The Power of kenalan dan pura-pura kenal. Risol Coklat ludes habis
berkat bujuk rayu saya ketika bertemu dengan mbak-mbak yang sebenarnya saya pun
tak mengenalinya. Embel-embel satu kampus, FISIP. Akhirnya si mbak bersimpati
dengan membeli risol coklat. Alhamdulillah
Banyak laba nya gak sih? sebenarnya dalam program danusan
ini, ketua saya Ridho tidak mengharapkan income yang banyak. Hanya sebagai
ajang kedekatan tim, katanya. Dan, saya amini itu. Karena dengan program
danusan ini, kami setim akhirnya bisa ketemu dan saling kenal. Dan, kalo
dihitung-hitung laba danus tidak seberapa bahkan mendekati rugi kali ya hahaha
Kenapa gak bikin makanan sendiri sih? kumpul 24 orang
lengkap aja tidak mungkin terjadi sebelum KKN, apalagi bikin makanan sendiri.
Kami berasal dari 9 fakultas UNS yang pastinya mempunyai kesibukan yang aduhay.
Pernah sih, saya coba membuat Oreo goreng tanpa trial. Langsung saya masak di
TKP. Dan hasilnya? seperti tetelan / gajih. Bodo amat deh, mending jualan risol
coklat aja. Hahahaha
Nah, dari semua jualan, yang paling laris manis adalah
jualan baju preloved atau second stuff. Kami berjualan di alun-alun kabupaten
Karanganyar setiap Minggu malam. Jaraknya cukup jauh, apalagi dengan membawa
bungkusan plastik besar. Tapi, setiap pulang kami bisa mendapatkan lebih dari
200 ribu. Modal awalnya pun 0, karena hanya mengandalkan pakaian lama. Dari
sini, kami belajar nahan malu jualan di emperan alun-alun sambil teriak-teriak
dan nahan harga kalo ditawar habis-habisan sama Ibu-Ibu. Nah, raut wajah
bahagia pembeli setelah mendapatkan barang kesayangan kami pun ajdi obat
pelipur lara. Harganya memang tidak seberapa, tetapi mengikhlaskan sesuatu yang
menyimpan banyak kenangan dan melihatnya membuka lembar kisah baru itulah yang priceless.
Saya salut buat teman-teman KKN tetangga yang rajin
mengadakan danus, membuat danus yang kreatif seperti katering diet mayo,
membuat boneka wisuda, ikut event, membuat roti, dan lain-lain. Namun, semua
itu kembali lagi pada tim KKN kalian masing-masing, kalau memang ada waktu ya
lakukan. Tapi kalau tidak, mending fokus dengan persiapan program.
Ohya, alhamdulillah tim saya mendapatkan Sponsor.
Teman-teman KKN lain pun juga banyak yang mendapatkan baik itu fresh money atau
barang dan jasa. Nah, menurut saya pribadi nih, mending kejar sponsor deh.
Karena dengan program yang kita kemas, perusahaan bisa tertarik dan kita pun
juga semangat buat ngerjain.
Intinya, kegiatan dana usaha itu sebenarnya lebih dari
sekedar mencari uang tetapi ajang kedekatan antar anggota tim. Dengan danus
ini, saya jadi menemukan bakat memasak ditim saya, saya menemukan Sri Mulyani!!
Saya juga mengenal satu sama lain dengan kegiatan ini, yang sebelumnya belum
pernah ketemu, gak inget namanya bahkan sampai saya harus melihat grup Whats
App untuk tahu namanya, saya yang sebelumnya menutup diri alias pasif dari
kegiatan kkn akhirnya jadi cebur langsung dan nyelem bareng di setiap kegiatan
KKN. Danus juga salah satu cara saya mengenal watak satu sama lain sebelum
hidup bersama, yaaaa benar kan, sedia payung sebelum hujan. Ah tapi setiap
orang selalu berubah, dear~
Oke, jadi buat teman-teman yang sedang merancang mau danusan
apa, carilah yang simpel dan tidak memberatkan kalian dan tim. Ingat juga
tentang hakikat danus sesungguhnya. Rekomendasi saya, coba jual barang
preloved. Lakukan apa yang kalian suka jangan berlandaskan keterpaksaan ya,
selamat mencoba!
Iis
-yang suka teriak-teriak kalo jualan dan bikin rusuh grup
buat danusan-