MMT Kebanggan Kelompok

Jumat, 8 Januari 2016

Hari ini adalah hari pertama kami resmi KKN. Hari ini juga kami yang memulai garis start dan jalan berbeda akhirnya berada di titik temu bersama (minus Saga yg masih perjalanan).

Upacara penyambutan dari pihak kantor Desa akan dimulai pagi ini.
Terik Matahari diam-diam masuk melalui jendela dan celah ventilasi ruang belakang. Menampakan pemandangan gudang yang kami tiduri semalam. Tampak partikel debu halus yang menghiasi ruangan. Sleeping bag dan selimut masih berserakan. Enggan rasanya keluar dari sleeping bag yang menggantikan kasur kami. Kantong mata masih menggantung, suara serak, dan rasa capek masih terlihat jelas. Kami belum siap rasanya untuk mengumpulkan semangat.

Aldo ; salah satu anggota geng motor dari Solo. Pagi ini wajahnya tak seceria saat bertemu di upacara pelepasan. Wajahnya merah terbakar oleh terik matahari tiga pulau. Wajahnya pun tak bisa membohongi rasa capek yang luar biasa ditampungnya. Badannya tak sesegar biasanya. Perjalanan dari Solo menuju Lombok, membuat punggungnya keselo atau salah urat.

Keadaan semakin siang semakin ramai. Berapa anggota sudah mulai mondar mandir keluar masuk ruangan. Bergantian menggendor pintu kamar mandi yg hanya satu di Balai Desa. Beberapa anggota lainnya mencari alternatif lain dengan mandi di tetangga, di Madrasah atau di masjid.

Saya memilih mandi di masjid dekat SD Malaka 1 yang kemarin saya gunakan. Kali ini, ditemani celotehan adik-adik SD yang terdengar dari bilik kamar mandi dan juga suara gemuruh ombak pantai.

Handuk sebagai hiasan jendela

Kami berkumpul di ruangan pertemuan atau ruang tidur yang para cewek gunakan semalam. Kursi terusun melingkar menghadap Pak Muhdin.

Pak Muhdin adalah sekretaris Desa Malaka. Beliau yg membuka upacara penyambutan ini karena Kepala Desa Malaka sedang menjalankan ibadah umroh. Pak Muhdin sangat humoris beberapa kali beliau mengajak kami bercanda sambil mencairkan suasana.

"Wah nanti bisa bantu saya urus administrasi Desa"

"Mantap nanti bisa ajari kami"

Begitu kurang lebih reaksi Pak Muhdin ketika kami memperkenalkan diri. Pak Mudhin tertarik dengan kami yang menurut beliau berpontensi membantu desa. Basically, kami beranggotakan mahasiswa Administrasi Negara dan Perencanaan Wilayah Kota yang cukup suitable membantu pekerjaan di Balai Desa. 

Satu ciri khas dari Pak Muhdin adalah kata mantapnya yang sering diucapkan.
"Mantap..." dan kemudian tepuk tangan.

Setelah ramah tamah perkenalan, resmilah kami menjadi warga sementara Desa Malaka.

Kami pun menyebar, ada yang masih melanjutkan sesi ngobrol bersama Pak Muhdin dan perangkat desa, ada yang sibuk membedah muatan, ada yang mulai membersihkan ruangan, ada yang beli makanan, ada pula yang bingung mau ngapain.

Beberapa teman membersihkan ruangan gudang dan pertemuan atau ruang tengah. Memindahkan barang yang dirasa tidak dipakai, menggeser papan, memindahkan buku. Nantinya gudang akan menjadi kamar cowok dan dapur sedangkan ruang pertemuan atau ruang tengah menjadi kamar cewek. Oya, disini tak ada kasur, hanya ada karpet serbaguna yang bisa jadi kasur, alas duduk, dsb. 

Tikar Multifungsi jadi alas tidur, alas makan, dsb


Pemandangan gudang dari ruang tengah

Setelah bercengkrama dengan debu. Para lelaki muslim bersiap untuk Jum'atan. Dan para wanita mulai mendekatkan diri satu sama lain. Saya, Dini, Yudha, Paul, Aldo, Hilda berinisiatif untuk keliling Desa. Kami berjalan menuju SD Malaka 1 yang katanya dekat dengan pantai.

Di tengah jalan kami bertemu dengan anak-anak, tak lupa kami menyodorkan hp dan, SELFIE! Walaupun kami belum mengerti bahasa sasak, tetapi anak-anak tersebut dengan mudah tertawa bersama.
Sekitar 10 menit atau kira-kira 500 meter, kami sudah sampai di Pantai Pandanan!!! 

Selfie pertama dengan local wisdom<3


Pantai yg tenang dengan ombak yang bersahabat pasir putih.. ah kami tidak tahan untuk segera menghampiri dan menyapa! Saya langsung jatuh cinta dengan pantai ini. Ombaknya bersahabat, airnya biru bersih, pasirnya putih,dan masih sepi. PAKET LENGKAP! (Next saya akan post ttg Pantai ini)

berasa kaya di walpaper Windows
TERBAYAR LUNAS!

Beberapa teman menyusul untuk menikmati pantai pertama ini. Dan kemudian kami berkeliling desa untuk menikmati real Malaka. Menikmati suasana dengan menyapa inaq (bahasa Sasak untuk Ibu), anaq (bahasa Sasak untuk Bapak), dan duduk di Berugak (gazebo khas Lombok). Rasa lelah dan kurang tidur seakan hilang disapu semilir angin siang itu. Kami mengobrol tentang keadaan Desa, berjalan menusuri kebun kelapa, dan...... bermain di pantai.

Jalan besar di depan posko
Ciblon di Pantai Pandanan
Pantai Pandanan, Desa Malaka, Lombok Utara
My First Love in Lombok

Hari pertama di Malaka, kami ber-24 habiskan menikmati sunset di Pantai Pandanan, bermain air yang tenang, sepoi angin Berugak, dan kembali tertidur bersama di Balai Desa Malaka. This is our first day in Lombok!

-ditulis sambil mengingat semilir angin Pantai-
Liliana

Yeeeey!!!
Akhirnyaaaaa setelah hiruk pikuk kegiatan pra KKN dan sekelumit administrasi pemberangkatan. Akhirnya kita berangkat juga......

Kelompok saya emang agak hipster gak kaya kelompok lain yang mana mereka berangkat bareng2. Ada 4 tim yang dibagi dalam kelompok saya, ada yang naik pesawat, bis, kereta, dan ada yang naik sepeda motor.

Iya naik motor dari Solo ke Lombok. Iya.

Kami memang sengaja membagi transport demi kepentingan dan kenyamanan bersama. Rencananya, Kami membawa 5 motor karena di Lombok tidak ada transport pribadi. Dan melihat program kami yang harus mondar mandir, bawa ini bawa itu, kesana kesini, akhirnyaaaaaa Aldo, Chandra, Ridho, Khoir merelakan punggung mereka ngelu selama tiga hari perjalananan. 

Dan motor sisanya, dipaketkan sampai banyuwangi dan siap dikemudikan oleh tim kereta. Lalu barang-barang kami seperti perkakas, buku donasi, dan kebutuhan kelompok lainnya dibawa oleh Tim Bus sampai Lombok.

Jadi begini alur transport kelompok kami, rencananya :

-Tim Motor : Aldo-Chandra, Ridho-Khoir berangkat Selasa 5 Januari. (Perkiraan sampai hari Kamis)
- Tim Kereta : Yudha, Pukon, Mirza, Dini, Alif, Hilda. Berangkat tanggal 6 Januari dan turun di Banyuwangi untuk ambil paket motor dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Lombok bersama Tim Motor. 
- TTim Pesawat : Saya, Ervan, Paul, Pram, Rapon, Ika, Srimul, Jojo, Nuke. Tim paling eksklusif (keliatannya) tapi aslinya.....hmmm
Rencananya tim pesawat ini akan dijemput oleh tim motor karena perkirannya tim motor+kereta akan tiba duluan.
- Tim Bis : Fadel, Fahrul, Gilang, dan barang-barang kelompok. Rencananya sih akan dijemput oleh tim Motor karena emang diperkirakan tim ini paling terakhir datangnya.

Dan...the only one anggota kelompok kami, Saga. Naik pesawat sendirian di hari Kamis (Perkiraan sampai di Lombok, Jumat)

Ya semua ini demi KKN yang ena ena.

Terima kasih untuk teman2 yg rela boyoknya gak karuan karena naik motor Solo-Lombok dan Banyuwangi-Lombok karena motor mereka menjadi barang tersier dan paling dicari-cari di Kelompok kami. 
Tim Eceran Premium di Bandara Juanda 

Nah giliran saya sebagai anggota tim Pesawat untuk bercerita bagaimana perjalanan eceran kami

Kami berangkat Rabu malam menggunakan bis tujuan Surabaya. Kira-kira, Jam 3 pagi kami sudah sampai terminal Purbaya dan melanjutkan ke Bandara Juanda.
Kita kepagian karena flight kita jam 10. Alhasil kami harus nge-gembel di emperan bandara. Mulai dari tiduran ditemani Lalat bandara, ngecharge HP gantian karena keterbatasan stop kontak, makan snack, dan berbuat iseng lainnya.

Rapon adalah orang yang paling gembira dan gak sabaran karena ini adalah pengalaman pertama naik pesawat -_- (Rapon : cowo yg pake topi)
Penampakan Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno) dari atas (ig @jodiamelina)
Welfie dululah biar gak panik


Surabaya-Lombok (Praya) menghabiskan waktu 1 jam di udara. Kecapean kita terbayar oleh pemandangan atas Pulau Lombok dan Tiga gili! 
L-O-M-B-O-K, bokkkk 💜

And......here we are, Lombok!
Mennn kita sampee Lombok meeeen
Sesampainya di BIL (Bandara International Lombok) kami langsung kabar kabari sanak saudara dan cek kondisi situasi. Kami masih jetlag dengan jarak waktu 1 jam beda dengan Solo.

Ternyata tim pesawat yang harusnya dijemput oleh tim motor, harus puter akal lagi karena tim motor+kereta baru sampai di pelabuhan Lombok.

Kamipun mencari tranpsort menuju Desa KKN kami, Malaka, Pamenang. Jika menggunakan bis Damri kami hanya bisa sampai Senggigi sedangkan desa tersebut masih jauh...(thats why I called us, Eceran Premium)

Pilihan kami jatuh di mobil sewaan bersama bapak Sopir. Itung-itung buat memperkenalkan kami di Pulau cantik ini. Kami menyewa dua mobil. Mobil saya penuh dengan sharing bahasa Lombok, dan saya suka obrolan ini!
Menerjang Hujan pertama di Lombok


Kami mampir sebentar untuk makan siang Ayam Taliawang, makanan khas Lombok, dan kami mendapati hanyalah Ayam Goreng dan Sambal, entah kami yang tidak tau atau warungnya yang meminimaliskan menu. 

Setelah santap siang, kami lanjutkan perjalanan kami dengan ditemani hujan pertama di Pulau Lombok. Kami curi curi waktu untuk menepi sebentar melihat pemandangan Pantai Senggigi dan Bukir Malimbu yang rame orang. Desa kami kira-kira 45-60 menit dari Senggigi. 
Mlipir nongkrong bentar di Senggigi



Wajah over bahagia sampai di Lombok

Setelah kami berhenti beberapa kali untuk tanya. Syukurlaaah..sampai juga kami di rumah kami 45 hari, Balai Desa Malaka, Pamenang, Lombok Utara. 

Keadaan balai desa saat itu masih asing. Sepi. Depan Balai Desa adalah jalan besar yg bisa dihitung hilir mudik kendaraannya. Dan kami adalah tim pertama yang sampai di Balai Desa. 

Kami mulai bergegas untuk bersih-bersih. Keadaan Balai Desa awal datang masih belum homey dan disebut tempat tinggal. Lampu kamar mandi pun tak ada. Ika, sempat membersihkan kamar mandi terlebih dahulu. 
Beberapa omongan muncul, untuk pindah, untuk merengek meratapi keadaan, untuk menyesali kekurangan informasi dari Ketua, yaa intinya ada rasa kurang puas di awal. Namun kami diam sejenak dan menunggu tim lainnya.
First time sampai Balai Desa. Komuk!!

Pelangi Sore itu (diambil oleh Tim Motor)


Saya dan Nuke mencoba jalan menuju sekolah (asal rekomendasi tetangga yg tiba2 mampir) untuk mencari tempat mandi alternatif. Kami mandi di Masjid. Bertemu dengan Ibu-ibu, kemudian bercerita. Kami disambut dengan sangat ramah.

Setelah bersih-bersih badan. Magrib, Tim motor+kereta datang dengan wajah lepek dan sayu. Tak ada pilihan lain kami pun memilih untuk tidur di balai desa malam itu. Kami menggelar sleeping bag seadanya di ruangan gudang belakang. Berteman debu dan barang-barang lainnya yang tak teratur. Ada ruangan luas bersekat tembok, kami gunakan itu sebagai kamar cowok dan cewek. Kami tidur layakny ikan pindang sambil diam diam berdoa agar besok kami semangat lagi dan berharap kami pindah atau setidaknya nyaman.

Saya tiba-tiba terbangun bersama Srimul dan Nuke, Jetlag. Kami mengira sudah subuh. Eh ternyata masih jam 12 malam.

Saat itu, dini hari, tim bis datang.

Saya ingat jelas wajah Ridho dan Fahrul menawari saya makan jam 12 malem. Di emperan Balai Desa. 

Selamat Malam, Malaka.....sampai jumpa esok hari, we're ready, be nice yaa 🌜🌜🌜🌜🌛🌛🌛🌙🌙🌙